Mode cerita
Pandemonium
John Martin membayangkan istana iblis dari Paradise Lost karya Milton, menjulang di atas lava di bawah langit gelap.
- Neraka punya ibu kota. Inilah dia.
- Sosok kecil di kanan bawah itu? Setan. Menurut Louvre, ia membangkitkan istana itu dengan satu embusan napas.
- Dalam puisi Milton, istana ini tidak dibangun. Ia muncul dari bumi “bagai embusan napas”.
- Sungai-sungai lava merah meneranginya dari bawah.
- Lalu bintik-bintik ini? Iblis. Agar muat di dalam, kata puisinya, mereka menyusut.
- Asap menutup menara-menara. Raksasa, dan entah kenapa terasa tanpa udara.
- Milton yang mengarang nama itu: “semua iblis”. Dalam bahasa Inggris, pandemonium kini sekadar berarti kekacauan.
Pandemonium adalah lukisan karya John Martin dari tahun 1841 yang menggambarkan Setan mendirikan Pandemonium, istana para iblis dalam Paradise Lost karya Milton, di atas lanskap lava yang membara; lukisan ini milik Museum Louvre di Paris.
Apa yang digambarkan Pandemonium karya John Martin?
Istananya sangat besar, langit nyaris hitam, dan tanah di bawah berpijar oleh api. John Martin membuat Neraka terasa menekan melalui skala. Bangunan seolah mampu menelan semua yang mengelilinginya, termasuk sosok kecil di tepinya.
Tema berasal dari Paradise Lost karya Milton. Pandemonium adalah istana tempat para iblis yang jatuh berkumpul. Martin memberi tempat khayalan itu tiang, dinding, dan menara, menjadikan penglihatan sastra sebuah kehadiran arsitektur yang luar biasa besar.
Apa itu Pandemonium dalam Paradise Lost karya Milton?
Di kanan bawah, Setan berdiri di hadapan bangunan. Louvre menggambarkannya sedang menghadirkan istana itu. Ukurannya yang kecil di samping bangunan menciptakan kontras tajam: satu sosok terkait dengan tontonan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Lava merah membelah dunia bawah dan memantulkan warnanya pada arsitektur gelap. Ia memberi bangunan kemegahan berbahaya. Cahaya menarik kita menuju istana, meski api di sekitarnya membuat ketertarikan itu tidak tenteram.
Miltonlah yang menciptakan kata itu. Oxford University Press mencatat bahwa pandemonium diciptakan dalam Paradise Lost dengan memakai awalan Yunani pan-, yang berarti semua, dan bahwa bagi Milton itulah ibu kota neraka. Dalam Buku I istana itu tidak dibangun bertahun-tahun: sebuah bangunan raksasa menjulang dari bumi “seperti uap yang terembus”. Louvre mengaitkan lukisan ini dengan baris 710 sampai 719 puisi itu dan menggambarkan Setan, yang berdiri di latar depan kanan, menciptakan dengan satu embusan napas istana yang akan menampung perhimpunan seluruh iblis. Tak lama kemudian dalam puisi itu, agar muat di dalam aulanya, para iblis menyusut ke wujud yang paling kecil. (Oxford University Press)
Bagaimana John Martin membangun adegan ini?
Di bawah bangunan, sosok kecil mengubah keluasan menjadi kesan kerumunan. Kita melihat tempat itu dihuni, tetapi skala mencegah individu menjadi pusat perhatian. Pertemuan itu milik bangunan sama seperti milik para sosok.
Barisan panjang dan bentuk arsitektur berulang membuat khayalan terasa teratur. Martin tidak hanya mengandalkan kekacauan untuk membuat Neraka menakutkan. Disiplin istana memberi kekuatannya sifat monumental, hampir seremonial.
Bagaimana Pandemonium bisa sampai di Louvre?
Asap dan kegelapan menekan di atas menara jauh. Gambar membuka kedalaman besar, tetapi atmosfernya terasa mengurung. Martin menahan kedua sensasi bersama: ruang luar biasa luas dan tekanan terperangkap di dalamnya.
Martin sudah dua kali membuat grafis cetak dari adegan ini, pada 1824 dan 1831, sebelum mengolahnya kembali menjadi lukisan ini, yang ia pamerkan di Royal Academy pada 1841, tahun yang sama dengan pasangannya, Kota Surgawi. Ia sendiri merancang bingkainya yang berhiaskan ular dan naga. Pemilik pertamanya, insinyur dan pembuat lokomotif asal Bolton, Benjamin Hick, meninggal setahun kemudian, dan lukisan itu dijual di Manchester pada 1843. Setelah berpindah-pindah di koleksi Inggris dan Amerika, lukisan ini dibeli Louvre pada 2006 dengan dana wasiat arsitek Pierre Belliot dan istrinya, Paule Marchaud. (Museum Louvre)
Lukisan meresahkan karena kemegahannya mengundang kekaguman. Martin memberi wilayah kejahatan bentuk indah, lalu membiarkan kita memikirkan daya tarik itu. Keindahan dan kekuasaan dapat menguasai perhatian tanpa layak dipercaya.
Ringkasan detail
Sumber dan bacaan lebih lanjut
- Pandemonium — Museum Louvre
- Biografi seniman: John Martin (Wikipedia, bahasa Inggris)
- Pandemonium (Wikipedia, bahasa Inggris)
Telusuri setiap cerita lukisan · Pertanyaan yang sering diajukan